Richard Ness : Blog : Merenungkan Tingkah Laku the New York Times bdan LSM


Merenungkan Tingkah Laku the New York Times bdan LSM - 05 Nov 2005
by Eric

Selamat datang di situs ini. Sebagaimana sudah banyak diketahui, ayah saya, Richard Ness, kini tengah menjalani proses persidangan di Indonesia atas tindak pidana yang tidak pernah terjadi dan diancam hukuman 10 tahun penjara serta denda sebesar Rp. 500 juta. Ia dituduh telah melakukan pencemaran lingkungan dan mengakibatkan timbulnya penyakit, meskipun beberapa studi independen telah berulang kali menegaskan bahwa tidak pernah terjadi kerusakan lingkungan dan bahwa penempatan tailing telah dilakukan sesuai undang-undang lingkungan yang berlaku. Dan yang paling penting, pemeriksaan medis telah berhasil membuktikan bahwa tidak ada kasus keracunan arsen dan merkuri di antara warga setempat.

Karena berbagai alasan yang bisa dikatakan bersifat politik, fakta-fakta ilmiah yang jelas-jelas membuktikan bahwa ayah saya tidak bersalah diabaikan begitu saja demi kebohongan dan penyesatan publik.

Ada dua faktor utama yang bisa menjelaskan mengapa ayah saya menjalani proses pidana. Pertama adanya pemberitaan miring oleh harian The New York Times. Kedua, adanya sekelompok LSM yang memanfaatkan dalih kepentingan publik guna melancarkan serangan misinformasi. Pemberitaan The New York Times dan kampanye sensasional LSM ini telah mendorong terjadinya ekses dalam menerapkan peraturan yang telah mengakibatkan terjadinya penahanan penahanan yang tidak perlu dan tidak adil terhadap lima orang yang tak bersalah.

Di samping itu, yang paling membuat kami geram adalah bahwa kasus palsu ini mengakibatkan ayah kami dicekal sehingga ia tidak diizinkan meninggalkan Indonesia untuk hadir pada pemakaman cucunya yang tutup usia pada umur delapan belas bulan di Minnesota. Bayangkan betapa pedih dan sakit perasaan kami sebagai keluarga yang tengah berkabung. Kami yakin bahwa pemberitaan yang tak adil dan tak lengkap oleh Jane Perlez dari The New York Times itu turut menentukan pemenjaraan dan pencekalan di atas. Meskipun tentu saja ada banyak pihak yang terlibat dalam rekayasa kasus ini, pemberitaan bohong Jane Perlez dari The New York Times cukup menonjol. Karena itu tidak anda tidak perlu ragu bagaimana perasaan kami sekeluarga terhadap Jane Perlez serta sekelompok wartawan yang berusaha keras untuk melindungi dan menutupi kegagalan penyelidikan Jane Perlez ini.

Seperti yang bisa anda lihat di situs ini, kami menyajikan analisis dan laporan yang membuktikan bahwa Jane Perlez telah melanggar kode etik jurnalis professional. Kami akan membuktikan bahwa seperti halnya kegagalan jurnalistis Jason Blair dan Judith Miller, tulisan Perlez tidak cukup dicermati dan dicek kebenaran dan keseimbangannya oleh para redaktur kantor berita The New York Times.

Kami dapat juga akan menyajikan data serta hasil yang dapat menunjukkan bahwa LSM-LSM Indonesia telah menjalankan kampanye mereka dengan dasar kebohongan serta pemutarbalikan fakta-fakta demi kepentingan pribadi ketimbang kepentingan publik, hal yang seharusnya dilakukan oleh suatu LSM.

Kami meluncurkan situs web ini khusus untuk memberi informasi yang benar mengenai kasus Buyat ini kepada keluarga dan sahabat-sahabat kami baik di AS maupun di Indonesia, juga para anggota pers. Kami berharap situs ini akan mejadi wadah untuk mendapatkan kebenaran mengenai mereka yang berbohong. Kisah di Balik Cerita Teluk Buyat baru dimulai. Silahkan baca blog pembuka, seperti Jane vs Jane, dan beberapa artikel opini berikutnya.
The opinions posted here are that of myself, my brothers, and other contributors and not that of my father nor the company he works for.