WALHI, Resah apa Nekat? - 24 Mar 2007
by Eric
Dengan mengajukan gugatannya melawan PTNMR kemarin, lengkap sudah WALHI bermutasi menjadi total organisasi politik. Tampaknya sudah waktunya kini bagi Friends of the Earth untuk memutus afiliasinya dengan WALHI.
Sungguh mengejutkan bahwa WALHI mengajukan gugatannya persis mengenai hal-hal yang kini masih berjalan dalam kasus pidana Buyat ketika putusan hakim akan keluar dalam dua minggu lagi pada tanggal 4 April 2007. Hal ini menunjukkan betapa gegabah dan emosinya WALHI dengan begitu lancangnya mencampuri proses peradilan dalam sistem hukum Indonesia. Dan ini mau tidak mau membuat kita bertanya:
Apakah WALHI itu masih merupakan LSM lingkungan?
Melihat timing gugatan mereka, WALHI semakin jelas menunjukkan belangnya kepada dunia bahwa mereka sesungguhnya tidak peduli terhadap prinsip-prinsip supremasi hukum, etika dan perilaku yang bertanggung jawab. Dan kini terang bagi semua bahwa WALHI pun tidak menjalankan kata-kata mereka sendiri. Jelas bahwa standar mereka adalah standar ganda.
Hari ini
www.mineweb.net dan
www.resourceinvestor.com melaporkan bahwa LSM Indonesia, WALHI, mengajukan gugatan perdata melawan Newmont mengenai Teluk Buyat:
“LSM lingkungan terbesar di Indonesia, WALHI, Kamis mengajukan gugatan perdata melawan PT Newmont Minahasa Raya dan pihak-pihak lain di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dengan tuduhan bahwa bekas operasi penambangan emas tersebut lalai melakukan pembuangan tailing di bawah laut ke Teluk Buyat.” Mineweb.net juga mengatakan bahwa Chalid Muhammad, Direktur Nasional WALHI juga mengatakan dalam pernyataannya bahwa, “Dengan gugatan ini, kami berharap pemerintah dapat bertindak tegas dalam menangani kasus Buyat agar di kemudian hari tak terjadi lagi kejahatan terhadap lingkungan seperti yang dilakukan PTNMR dan juga dapat menindak siapa saja yang melakukan pencemaran lingkungan dan membahayakan kehidupan rakyat.”
Rupanya menurut Chalid Muhammed, menyeret ayah saya ke pengadilan pidana walau tanpa bukti apa pun masih bukan pertanda yang cukup mengenai niat Pemerintah untuk menuntut PTNMR.
Chalid Muhammad disebut dalam Pembelaan Ayah saya karena dia merupakan salah satu anggota tim Indonesia yang mengunjungi Berkeley Kalifornia, (AS) tahun 1999 untuk menerima pelatihan mengenai cara menjalankan kampanye anti-tambang. Ayah memberi foto ini [
link] yang diambil tanggal 3 Juni 1996 ketika Chalid Muhammad berada di AS. Jadi, sebaiknya kita jangan meremehkan kegigihan WALHI karena kasus terhadap Ayah saya sudah memiliki sejarah yang sepuluh tahun lamanya. Foto ini jelas menunjukkan adanya keterkaitan yang sudah berlangsung cukup lama antara Chalid Muhammad dan kasus Teluk Buyat, setidaknya sejak 1999.
Ayah saya memberi saya foto berikut ini (hyperlink di sini) yang diambil tahun 19—ketika Chalid Muhammad mengikuti program training di AS tentang bagaimana menjakankan kampanye melawan Newmont Minahasa Raya. Jadi jangan pernah ada yang menganggap keteguhan WALHI karena kasus melawan Ayah saya ini sudah hampir satu dekade berjalan kampanyenya.
PTNMR adalah target utama WALHI, dan kini kita menjadi buntut dari kampanye satu dekade mereka. Sejarahnya adalah berikut ini:
• Tanggal 11 Agustus 1995 Manado Post menyatakan bahwa WALHI dan LBH mengklaim bahwa tailing Newmont telah menyebabkan hilangnya ikan! Cuma ada satu masalah di sini: saat itu tambangnya masih belum buka dan pipa tailing bahkan masih belum selesai dipasang. [lihat gambar].
• 2001, WALHI dan LSM-LSM lain meluncurkan buku ‘dari Minamata ke Minahasa’ dan ketika kasus ini meledak, dr. Jane Pangemanan dan Dr. Rignolda Djamaludin kemudian meneruskan tuduhan-tuduhan ini. Namun semua ini dengan mantap terbantahkan oleh laporan WHO dan Minamata Institute [link]
• Kemudian mereka bergeser ke arsen dalam ikan, dan ketika itu pun tidak terbukti
• WALHI sekali lagi mengubah isunya menjadi arsen di dalam air tanah, tanpa memandang bahwa sejak awal tidak pernah ada masalah soal logam di sini. [Lihat laporan WHO – halaman terakhir di mana WHO menguji daerah tersebut dengan parameter 17 jenis logam, termasuk merkuri dan arsen].
Tudingan-tudingan WALHI selalu ngeluyur tidak jauh-jauh dari pencemaran merkuri dan arsen baik itu di air maupun di ikan selama kampanye mereka berjalan. Gugatan terakhir ini menjadi episode terkini dari kampanye mereka dan hanya semakin menggarisbawahi sifat aktivisme mereka yang tak kenal kapok, walaupun itu bertentangan dengan kepentingan publik.
Perlu diakui bahwa WALHI memang berhasil membuat Pemerintah menelan bulat-bulat kasus ini, walaupun fakta ilmiah dan hukum tidak pernah mendukungnya. Namun WALHI meremehkan kekuatan fakta ilmiah serta kejujuran dan keberanian banyak saksi fakta dan saksi ahli yang memberi keterangannya di depan pengadilan bahwa Teluk Buyat itu bersih. Dan kini WALHI resah!
Jelaslah sudah, WALHI rupanya sedang mengalami krisis kredibilitas. Dan memang ini sudah diduga akan terjadi ketika WALHI mulai berperang seperti partai politik. Dulu, LSM-LSM itu sangat dipercaya publik sehingga sangat berpengaruh. Tapi ketika LSM sudah mulai menyalahgunakan pengaruh itu , kepercayaan publik terhadap mereka bisa lenyap seketika. Dan hal ini lebih berlaku lagi di zaman internet ini ketika LSM-LSM pun tak luput dari perhatian publik soal akuntabilitas mereka, dan WALHI adalah salah satu di antaranya.
Motif WALHI yang sesungguhnya dalam kasus Buyat sudah menjadi bahan diskusi yang intens di berbagai blog. Blog dengan judul seperti
Walhi Menuju Kehancuran Reputasi? secara terbuka menantang WALHI untuk membahas posisi mereka dalam kasus Teluk Buyat secara terbuka, tapi mereka menolak berpartisipasi. LSM macam apa sih yang menolak berinteraksi langsung dengan publik secara transparan?
Sedangkan blog-blog lain menyebut WALHI sebagai berikut:
“Menarik untuk diperhatikan bagaimana kelompok lingkungan hidup seperti WALHI yang telah di-diskreditkan bisa berubah dan bisa berguna untuk linghungan hidup sebagaimana mestinya dan bukan terlibat dalam agenda politik/pribadi yang ajaib.” [
link]
Dan pembaca-pembaca blog berkomentar sebagai berikut:
“
... sesungguhnya agenda utama WALHI adalah bukan untuk melindungi lingkungan hidup, tapi untuk menyerang perusahaan-perusahaan asing... ” [
link]
Reputasi WALHI rontok dan tidak hanya di Indonesia, ketika salah satu blogger lingkungan hidup terkemuka dari Australia menulis blog dengan judul
“What a WAHLI!” [
link]
Kritik paling menyesakkan terhadap WALHI muncul pada acara ulang tahunnya yang ke-25 bulan Oktober 2005 ketika media melaporkan bahwa:
“Mantan menteri lingkungan hidup, Sonny Keraf, mengatakan di sela-sela acara Ulang Tahun WALHI ke-25 di Jakarta Sabtu lalu bahwa selama tiga atau empat tahun terakhir, kualitas dan kuantitas kerja Walhi menurun.” (Jakarta Post. 17 Oktober 2005)
Jelas bahwa kasus buyat telah berdampak buruk pada WALHI, dan gugatan ini hanyalah upaya penghabisan mereka untuk mengalihkan perhatian persis sebelum putusan hakim dijatuhkan.
Sesuatu yang sangat salah telah menimpa WALHI. Chalid Muhammad dan pihak-pihak lain yang bermotivasi politik seperti dia telah menyandera agenda lingkungan yang sahih dan mengubah wujud suatu LSM lingkungan menjadi alat politik. WALHI harus direformasi dan generasi aktivis lingkungan yang lebih muda harus mengambil alih dan mulai membersihkan WALHI.
WALHI dalam bahaya, dan dunia bisa mendengar permintaan tolong darinya.
Sumber-sumber lain:
[Video]
Ayah berdebat dengan Raja Siregar di CNBC
[Video]
Rangkuman kesaksian Rignolda Djamaludin.
[PDF]
LSM Merongrong Demokrasi oleh Mike Nahan dan Don D’Cruz