Richard Ness : Blog : Blog Tentang Perlez Seri-1: Putusan Kasus Buyat adalah Putusan Mengenai Jane Perlez


Blog Tentang Perlez Seri-1: Putusan Kasus Buyat adalah Putusan Mengenai Jane Perlez - 02 May 2007
by Eric

Dalam dua bulan terakhir saya sering ditanya apa yang akan saya lakukan dengan blog ini jika kasus Buyat selesai. Pada intinya saya mengatakan bahwa saya ingin tetap mempertahankan blog ini karena dua alasan. Pertama, jika kasus ini berlanjut ke tingkat kasasi, saya akan tetap meneruskan blog ini mendukung ayah saya. Dan, kedua saya ingin membantu memulihkan nama baik ayah saya, yang telah tercemar dalam 30 bulan terakhir. Di tahun mendatang, sangat dimungkinkan bahwasanya akan banyak makalah akademik, tanyangan video, dan bahkan banyak buku akan terus membongkar kebohongan ini.

Dimulai dengan blog ini saya ingin memfokuskan kembali pada seseorang yang saya anggap penting dalam mencuatkan kebohongan ini. Orang tersebut adalah Jane Perlez, seorang reporter dari New York Times. Saya yakin Jane Perlez telah menciptakan standar baru dalam dunia jurnalisme yang memuat berita-berita sensasional (yellow journalism). Pertama, apa yang dia laporkan adalah laporan bohong! Dan kemudian tidak seperti ikan yang tidak pernah menghilang dari Teluk Buyat, Jane Perlez justru menghilang dari peredaran ketika pembelaan ayah saya mulai menghadirkan saksi-saksi pada awal tahun 2006.

Sangat jelas bahwa Perlez telah mengarang cerita dan kemudian menyambung-nyambungkan informasi-informasi untuk mendukung ceritanya. Tak seorangpun menyangka seorang reporter New York Times akan bergelut dalam jurnalisme pop seperti ini. Tetapi, dia melakukannya dan blog-blog saya di masa mendatang mengenai topik ini akan menunjukkan bahwa keinginan untuk memoles cerita Buyat untuk menarik perhatian massa dapat ditelusuri ke belakang berkat dukungan yang diberikan oleh para manajer dapur berita di New York kepada Jane Perlez.

Saya sangat terkejut dengan pemberitaan Perlez yang tidak akurat mengenai kasus Buyat. Tetapi Jane Perlez telah membuat berang rekan-rekan seprofesinya juga karena pemberitaannya yang berat sebelah telah merusak reputasi komunitas reporter secara keseluruhan. Karenanya, tidaklah mengejutkan banyak reporter kini mempertanyaakan secara terbuka integritas jurnalistik Perlez. Dan saya menduga mereka akan terus mencari mencecar sampai akhirnya jelas bahwa Jane Perlez memang termasuk dalam kelompok yang sungguh memalukan sama seperti apa yang dilakukan oleh jurnalis Jason Blair.

Keraguan seputar cerita yang dibuat oleh Perlez mulai muncul ke permukaan sekitar setahun lalu. Pertama, pada tanggal 16 Maret 2006 ketika sebuah laporan yang ditulis oleh Jonathan Burns dan Stephen Moore dari Wall Street Journal mengemukakan beberapa pertanyaan tajam seputar laporan Jane Perlez [link]. Ketika Burns dan Moore berusaha menelpon Jane Perlez selama penyelidikan mereka, Perlez menolak untuk menerima telepon mereka. Selama karirnya, Perlez pasti telah mengganggu banyak pihak melalui pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan melalui telepon secara tidak terduga, tetapi kini dia menjadi orang yang harus menjawab telepon tersebut. Dan yang menarik, perilaku anehnya tidak jauh berbeda dengan perilaku para politisi kotor yang sadar menjadi pusat perhatian media.

Tidaklah mudah bagi seorang reporter untuk menyelidiki reporter lain tetapi Jane Perlez kini telah membuat dirinya sendiri menjadi bahan cerita karena liputannya yang mencurigakannya seputar Buyat. Vincent Carroll yang bekerja untuk Rocky Mountain News telah menulis artikel yang sangat menarik dengan judul “The Newmont Verdict.” [link]

Carroll mengawali artikelnya dengan mengutip liputan yang ditulis oleh Jane Perlez:
The 2,200-word article on Sept. 8, 2004, was replete with one damning claim after another. Perhaps the most shocking involved medical examinations in Buyat Bay, near the mine: “Thirty of the villagers had tumorlike growths, said one of the doctors, Jane Pangemanan. ‘I was shocked by what I saw,’ she said in an interview. Of the 60 people she examined, about 80 percent showed symptoms of poisoning by mercury and arsenic, she said.”

[Translation: Artikel yang terdiri dari 2200 kata yang dimuat tanggal 8 September 2004 penuh dengan berbagai tuduhan. Mungkin, yang paling mengejutkan adalah hasil pemeriksaan medis di Teluk Buyat, dekat tambang: “ Tiga puluh warga desa menderita benjolan seperti tumor, ujar salah seorang dokter, Jane Pangemanan. “ Saya sangat terkejut dengan apa yang saya lihat,” ujar beliau dalam sebuah wawancara. Dari 60 warga yang beliau periksa, sekitar 80 persen menunjukkan gejala keracunan merkuri dan arsenik, ujar dia.”]
Carroll, kemudian melanjutkan dengan melakukan observasi: “Satu-satunya masalah dengan tuduhan-tuduhan yang mengejutkan itu adalah tuduhan-tuduhan tersebut sama dengan kebohongan” dan “tuduhan-tuduhan tersebut rontok dengan sendirinya selama dua tahun.”

Carroll juga menunjukkan beberapa kejanggalan dalam laporan Jane Perlez mengenai Dr. Jane Pangemanan. Beliau mendapati penarikan laporan kepolisian Dr. Jane lima bulan setelah artikel Times dimuat…. [tapi] tidak menemukan secara tepat rujukan ini di Times”. Tetapi, ketika Jane Perlez akhirnya melaporkan mengenai penarikan laporan kepolisian Dr. Jane, beliau melakukannya “dengan cara menginformasikan para pembaca Times bahwa Dr. Jane dengan sangat menyesal berubah haluan”.

Tetapi, seperti yang disampaikan oleh Carroll:
If Pangemanan regretted her retraction, she could have rectified the error when she testified at Newmont’s trial. Instead, she confirmed she had not identified mercury or arsenic poisoning.

[Translation: Jika Pengemanan menyesal dengan penarikan laporannya, beliau dapat memperbaiki kesalahannya ketika beliau bersaksi dalam persidangan Newmont. Namun beliau menegaskan bahwa beliau tidak mengidentifikasi adanya keracunan merkuri ataupun arsenik.]
Jadi, bagaimana Jane Perlez menebus kesalahannya? Jawabannya singkat, dia tidak bisa menebusnya! Dia harus bertanggung karena ia telah merampas waktu yang sangat berharga dari tangan ayah dan keluarga saya selama lebih dari dua tahun. Ia telah mendorong oknum-oknum LSM tertentu, pemerintah dan kepolisian RI untuk menyalahgunakan kewenangnya sehingga kisah bohongnya tampak seperti otentik.

Jane Perlez bukannya mengungkapkan dan mennyoroti pejabat publik yang menyalahgunakan wewenangnya, tapi ia malah ikut tenggelam dalam proses korup ini agar dia dapat menutupi fakta yang sebenarnya tentang kasus Buyat. Dalam kunjungan terakhirnya ke Manado, ia tampak ditemani oleh Masnellyarti Hilman, seorang pejabat Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang mengutip standar ASEAN, yang sebenarnya tidak pernah ada, dalam Laporan Tim Terpadu dan juga orang yang menentukan jumlah asupan arsenik dengan menggunakan rata-rata konsumsi 5 kg ikan per kapita per hari— data empiris yang tidak masuk akal [link].

Cerita-cerita yang ditulis di banyak koran dan media bisa membawa dampak yang signifikan terhadap masyarakat luas dan perusahaan. Misalnya, pada Pebruari 2007 lalu, saat Washington Post membeberkan kondisi yang sangat menyedihkan mengenai layanan rawat jalan di Pusat Kesehatan Angkatan Darat Walter Reed (Walter Reed Army Medical Center), komandan fasilitas kesehatan tersebut langsung dipecat dari jabatannya dan harus menjalani proses pemeriksaan.. Pertanyaannya sekarang, apakah manajemen New York Times punya nyali untuk memberikan sanksi serupa kepada wartawannya? Apakah mereka bersedia secara transparan mengungkapkan kepada publik tentang bagaimana cara kerja bagian pemberitaan sehingga laporan bias yang dibuat oleh Perlez tentang Teluk Buyat bisa lolos dari sidang redaksi?

Pendapat saya tentang cerita-cerita yang ditulis oleh Jane Perlez juga merefleksikan sentimen masyarakat yang lebih luas. Tapi yang terpenting tentang Jane Perlez adalah bahwa ia harus mampu menjawab pertanyaan warga Buyat yang telah merasa ketakutan akan wabah Minamata yang ternyata tak pernah ada dan masyarakat nelayan yang tak seharusnya khawatir akan kehidupannya akibat tulisan salah yang dibuatnya bahwa ikan-ikan telah menghilang dari Teluk Buyat.

Hanya waktu yang mampu menjawab apa yang terjadi dengan Jane Perlez dan OPC award yang diterimanya. Tapi tunggu saja, di blog saya mendatang saya akan menulis tentang sepak terjang Perlez dan dua hal baru terkait dengan beberapa tulisannya di surat kabar.
The opinions posted here are that of myself, my brothers, and other contributors and not that of my father nor the company he works for.