Laporan Tim Teknis masuk “Hall of Fame” Ilmu Gadungan - 01 Aug 2006
by Eric
Barangkali ada baiknya kalau Pemerintah Indonesia menarik kembali laporan Tim Teknis mengenai Teluk Buyat karena di dalamnya terdapat banyak kesalahan yang begitu memalukan, laporan ini bisa merusak reputasi kalangan ilmiah negeri ini. Selain itu, pemerintah sebaiknya juga menyelidiki siapa-siapa saja anggota Tim Teknis itu yang telah dengan sengaja menyesatkan pemerintah dan masyarakat.
Baru-baru ini seorang anak yang cerdas dari Indonesia berhasil memenangkan Olimpiade Fisika dan menunjukkan kepada dunia luas betapa besar potensi ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada di negara ini. Sementara seorang siswa SMU menjadi kebanggaan bagi Indonesia, di lain pihak segelintir anggota Tim Teknis hanya bisa membuat malu negara. Sebelum ini terjadi, mungkin ada baiknya pemerintah bertindak cepat dan menarik laporan ini dan menyelidiki sampai tuntas guna mengetahui dan menghukum mereka yang bertanggung jawab atas tercorengnya nama baik pemerintah.
Bagian terpenting dari laporan Tim Teknis mengenai Teluk Buyat ini adalah kesimpulannya bahwa konsumsi ikan dari Teluk Buyat menimbulkan risiko keracunan arsen pada manusia. Temuan ini merupakan peristiwa bersejarah karena kalau memang benar Teluk Buyat akan menjadi kasus pertama keracunan arsen akibat memakan ikan sepanjang sejarah dunia. Tentu tidak mengherankan bila kesimpulan ini membuat banyak pihak mengerenyitkan dahi, sehingga dirasa perlu untuk memeriksa kembali perhitungan Tim Teknis ini secara rinci.
Ternyata tidak perlu banyak waktu untuk menyimpulkan bahwa laporan Tim Teknis gagal melewati uji “due diligence” alias sembrono, sehingga kesimpulannya salah total, bahkan memalukan. Ada beberapa kesalahan dalam laporan yang secara kumulatif membengkakkan resiko keracunan arsen dari komsumsi ikan hingga 5000%. Tetapi yang paling memuakkan adalah sifat dari kesalahan-kesalahan tersebut.
Kesalahan yang paling kentara dalam perhitungan Tim Teknis mengenai asupan arsen anorganik rata-rata per hari adalah data konsumsi ikan rata-rata oleh warga Teluk Buyat. Menurut Tim Teknis seorang dewasa mengonsumsi 5 kg ikan per hari, sedangkan seorang anak mengonsumsi 2 kg ikan per hari.
Agar para pembaca dapat memahami betapa angka-angka ini menggelikan, coba kita bayangkan apa artinya bagi seorang dewasa memakan 5 kg ikan dan untuk seorang anak memakan 2 kg ikan per hari.
Gambar pertama menunjukkan seorang dewasa memegang dua ekor ikan seberat 5 kg.
Gambar kedua menunjukkan jumlah ikan yang dimakan oleh seorang anak menurut Tim Teknis. Terakhir, kalau anda ingin percaya hasil Tim Teknis ini, suatu keluarga yang terdiri dari 4 anggota (dua dewasa dan dua anak) dapat mengonsumsi 77 kaleng ikan tuna per hari, yang setiap kalengnya berisi 180 gram ikan
(gambar ketiga). Implikasi dari angka-angka ini adalah bahwa suatu keluarga biasa di Teluk Buyat menghabiskan sekitar US$ 3.000 per bulan hanya untuk ikan. Karena itu, tidak sulit menyimpulkan bahwa kekeliruhan Tim Teknis tak mungkin dapat dibenarkan. Setelah pembaca dapat mengatasi shok dan keheranan setelah melihat gambar-gambar ini, mari kita ajukan suatu pertanyaan yang sangat sederhana: suatu tim yang diketuai oleh Ibu Masnellarty Hilman, yang oleh Jane Perlez dari NYT pernah dijuluki saksi primadonna, yang memiliki gelar pasca-sarjana dari Colorado School of Mines, koq bisa melakukan kesalahan fatal seperti itu?
Dalam bidang matematika ada istilah Innumeracy (buta angka) yang dikembangkan oleh ahli matematika John Allen Paulos yang artinya ketidakmampuan memahami konsep-konsep matematika yang sederhana. Istilah ini adalah padanan istilah umum “buta huruf” dalam bidang matematika. Barangkali beberapa anggota tim tersebut menyandang kekurangan ini. Atau mungkin saja ini adalah kasus Dyscalculia, suatu kelainan yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menghitung angka. Atau mungkinkah ini hanya kasus manipulasi angka yang sengaja dilakukan untuk menyesatkan publik demi kepentingan politik? Apa pun alasannya, sudah jelas bahwa laporan Tim Teknis merupakan contoh terbaik dari “Ilmu Gadungan” yang bisa ditemukan di planet ini.
Untungnya Tim Teknis itu juga terdiri dari anggota-anggota yang secara terbuka mengajukan opini yang bertentangan dan menjauhkan diri dari orang-orang bermotivasi politik yang ingin memaksakan kesimpulan yang sudah mereka tentukan sebelumnya. Karena itu, hasil laporan Tim Teknis tidak mencerminkan pendapat mutlak kaloangan ilmiah Indonesia, tetapi hanya merupakan rekayasa oleh segelintir individu yang didorong kepentingan politik.
Sudah ada cukup banyak bukti untuk memulai suatu penyelidikan guna mengetahui siapa individu-individu yang dengan sengaja telah berusaha menyesatkan publik, memboroskan dana negara, mengakibatkan pengorbanan ekonomis masyarakat nelayan setempat dan memanipulasi pemerintah sampai memutuskan relokasi beberapa penduduk dari Buyat. Dan bagaimanapun semua ini tidak masuk akal, konsekuensi ini didasarkan pada data yang direkayasa bahwa seorang dewasa mengonsumsi 5 kg ikan per hari. Beberapa anggota Tim Teknis telah melakukan tindak pidana dan karena itu mereka harus mempertanggungjawabkan tindakannya.