Sisi Kemanusiaan Kasus Buyat - 20 Sep 2006
by Eric
Kini dengan rampungnya sidang mingguan, sekarang saya bisa merefleksikan kasus Buyat dari sisi lain. Bagi saya sudah menjadi jelas bahwa kasus ini jauh lebih besar daripada sekedar perdebatan ilmiah dan pertikaian hukum. Lebih dari itu, kasus ini telah mengangkat persoalan yang lebih mendalam dan lebih kompleks, yakni mengenai moralitas, dan bagaimana sesuatu yang begitu tidak adil bisa terjadi dalam skala sebesar ini? Pertanyaan-pertanyaan seperti – kok ada orang-orang yang begitu semena-mena dan tidak peduli? Apakah politik itu begitu kejamnya dan tidak punya hati nurani? – telah menghantui pikiran saya cukup lama.
Dari kasus ini terlihat jelas betapa fanatisme politik bisa memiliki dampak yang begitu membutakan terhadap manusia, dan bagaimana ia bisa membekukan mesin pemerintahan dan membuatnya bertindak secara tidak bertanggung jawab. Ketika para penegak hukum gagal menjalankan hukum itu sendiri, kepercayaan publik terhadap kemampuan sistem peradilan dan supremasi hukum untuk memberi rasa aman dan tentram kepada masyarakat akan hancur berkeping-keping. Kemungkinan buruk ini sangat traumatis dan meresahkan dari berbagai sisi, khususnya bagi mereka yang terkait dengan kasus Buyat.
Tak ayal lagi bahwa dampak terbesar dari kontoversi kasus Buyat dirasakan bukan dari sisi kerugian finansial, yang sangat tidak berarti jika dibandingkan dengan kerugian emosional yang ditimbulkan di keluarga saya, teman-teman dan masyarakat di sekitar Teluk Buyat.
Ada dua hal yang mendorong saya untuk menulis blog ini. Pertama, surat menyurat elektronis antara teman saya dan Ayah saya mengenai
kesedihannya soal kematian bayi Andini. Jelas dari email ini bahwa kesedihan dan rasa terpukul yang muncul dari ketidakadilan dalam soal ini juga dirasakan oleh orang-orang yang belum tentu keluarga saya sendiri.
Sebagai seorang pengelola situs web, saya sudah menerima banyak pesan dan komentar dan saya tetap menjaga kerahasiaan pesan-pesan tersebut. Namun saya cukup tergerak oleh
email antara ayah saya dan salah seorang yang bekerja di daerah tersebut, termasuk di Buyat. Orang ini telah mengizinkan saya untuk berbagi cerita ini, dengan tentunya tetap menjaga kerahasiaan identitasnya. Alasan kenapa saya hendak berbagi cerita ini adalah untuk memperkuat fakta bahwa ini bukan merupakan kasus soal air laut, ikan ataupun hukum; ini adalah kisah mengenai bagaimana fitnah telah mempengaruhi banyak orang, dan telah menyisakan luka mendalam di masyarakat Buyat dan Ratatotok, para pegawai Newmont, keluarga dan kerabatnya.
Alasan kedua saya menulis blog ini adalah cerita yang dipublikasikan oleh Detik.com tentang bagaimana kasus ini telah memecah belah keluarga dan kerabat di masyarakat Teluk Buyat, semua karena janji-janji palsu LSM kepada warga soal uang. Tidak diragukan lagi bahwa para warga yang miskin sangat rentan terhadap umpan uang, dan beberapa LSM memanfaatkan kemiskinan mereka untuk mengedepankan tujuan-tujuan politik mereka.
Bagi warga desa di Teluk Buyat yang miskin, aset mereka yang terpenting adalah keluarga dan teman-teman mereka. Tapi berdasarkan rekomendasi dari
analisis ilmiah yang salah oleh Tim Teknis KLH, sebagian keluarga Teluk Buyat dipindahkan ke tempat yang bernama Dominanga. Seperti yang kemudian diketahui, tidak ada resiko kesehatan akibat mengkonsumsi ikan, dan ternyata sama sekali tidak perlu memaksakan relokasi para keluarga dari Teluk Buyat ini. Agak sulit dibayangkan, namun blunder ilmiah Tim Teknis ini telah menyebabkan begitu banyak penderitaan bagi keluarga-keluarga di Teluk Buyat. Kini keluarga-keluarga yang sudah terpecah belah ingin kembali bersatu lagi di Teluk Buyat — tapi ternyata tidak mudah. Silahkan baca cerita selengkapnya di sini dalam Bahasa Inggris dan versi Bahasa Indonesia
bagian 1 |
bagian 2 |
bagian 3
Kasus ini juga telah menimbulkan ketidakadilan dan kesusahan bagi lima orang kolega ayah saya—Bill, David, Jerry, Phil and Putra—yang semuanya sempat ditahan selama lebih dari sebulan atas tindak pidana yang tidak pernah mereka lakukan. Temuan WHO yang menunjukkan bahwa tidak ada pencemaran dan masalah kesehatan diabaikan sepenuhnya oleh Polisi, dan para pegawai Newmont ini ditempatkan di sel-sel yang bersebelahan dengan pelaku pemboman kedutaan Australia. Kok begitu dendamnya mereka sampai-sampai harus memasukkan lima orang yang tidak bersalah ini di tempat yang sama dengan pelaku bom yang biadab ini? Baca tentang pengalaman pribadi Jerry dan David dalam
cerita oleh S Pearl.
Bagi keluarga saya ketegaan beberapa individu ini sulit dibayangkan. Kami masih tidak mengerti kenapa ayah saya tidak diizinkan berkunjung ke Minnesota untuk menghadiri pemakaman keponakan saya? Newmont dan ayah saya sudah memberi jaminan hukum dan finansial kepada Polisi bahwa ia akan kembali ke Indonesia dan melapor kepada Polisi sesuai hukum yang berlaku. Tapi itu semua tidak berpengaruh, dan ayah saya tetap dicekal tanpa pandang bulu.
Tekanan yang dialami oleh ibu saya, ayah saya dan keluarga saya semakin lama semakin terasa dan sulit untuk kami gambarkan. Saya tidak lagi bisa merasa terlalu senang membaca laporan-laporan yang menyatakan Teluk Buyat bersih karena saya sudah lama tahu itu. Biasanya orang-orang mengatasi kesulitan dan tekanan yang mereka hadapi dengan adanya keyakinan bahwa kejadian-kejadian buruk yang juga terjadi pada setiap orang umumnya berlangsung sebentar dan penyelesaiannya bisa diprediksi atau akan segera berakhir. Akan tetapi fitnah Buyat ini sudah berlangsung lebih dari dua tahun, dan hasilnya sulit diprediksi; ujungnya tidak tampak, dan luka serta kerusakan yang timbul membekas. Persistensi kasus ini adalah suatu realita yang sulit.
Sebagai kesimpulannya, kasus ini telah menampakkan sisi bengis manusia yang sangat merisaukan dan menyedihkan. Melihat dan mengalami sendiri kebencian yang begitu kuat pengaruhnya pada diri manusia adalah pengalaman yang sangat menyentuh nurani. Hidup itu terlalu pendek untuk dibuang-buang berbuat jahat kepada sesama manusia, dan saya sendiri berharap jangan sampai ada orang yang terkena fitnah yang sama seperti kasus Buyat ini.