Teluk Buyat Bersih!!! - 14 Aug 2006
by Eric
Sementara pengambilan sampel ulang telah menegaskan bahwa Teluk Buyat bersih, dari situ terlihat juga siapa yang sebenarnya kotor. Ya, benar, maksud saya, laporan Polisi dan laporan Tim Teknis. Pertanyaannya sekarang, ritual apa lagi yang diperlukan untuk secara resmi menguburkan laporan Tim Teknis itu?
Pada tanggal 28 Juli 2006 Majelis Hakim menyetujui pengambilan sampel ulang di Teluk Buyat oleh Australian Laboratory Services (ALS) – sebuah laboratium lingkungan yang memiliki akreditasi internasional di Indonesia. Hari berikutnya ALS datang ke Teluk Buyat dan mengambil sampel di 4 lokasi yang sesuai dengan lokasi di mana pihak kepolisian mengambil sampel dua tahun sebelumnya. Dari masing-masing lokasi diambil 3 sampel – permukaan, tengah dan dasar teluk. Prosedur pengambilan sampel tersebut serta penyimpanannya dipantau oleh wartawan dari beberapa media.
Pada 11 Augustus 2006, ALS mengajukan hasilnya di depan pengadilan dan menjelaskan bahwa prosedur kontrol mutu ditaati selama proses pengujian. Menurut ALS ke-14 sampel yang diambil, termasuk kedua duplikasi dari Teluk Buyat, menunjukkan bahwa merkuri terlarut tak dapat dideteksi dalam sampel-sampel tersebut dan bahwa rata-rata arsen terlarut adalah 1,33 ppb yang cukup jauh di bawah standar nasional, yakni 12 ppb. Arsen terlarut berkisar antara 0,9-1,8 ppb yang merupakan kisaran yang sama seperti pernah diamati selama masa pertambangan dan masa pasca-penutupan tambang.
Hasil pengambilan sampel ulang juga menunjukkan hasil yang sama seperti yang telah diambil oleh Kemeterian Lingkungan Hidup tahun 2003 dan 2004 dan juga sesuai dengan hasil pengambilan sampel independen oleh WHO, CSIRO-Australia, dan Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) di Manado.
Di samping itu, perbandingan antara mutu air laut di teluk Buyat dan di lautan Atlantik dan Pasifik serta perairan pesisir di AS, UK dan Jepang menunjukkan bahwa kadar rata-rata arsen di
Teluk Buyat lebih rendah dari lautan lain di dunia.
Sudah sejak awal ketika Puslabfor menemukan adanya pencemaran merkuri di Teluk Buyat pada 28 Juli 2004, hasilnya tampak mencurigakan dan tentu saja salah. Menurut ayah saya, pemantauan setiap triwulan selama delapan tahun telah menunjukkan bahwa kadar merkuri terlarut di Teluk Buyat tak dapat terdeteksi. Selain itu, ketika WHO menguji air laut dua minggu setelah pengambilan sampel oleh tim kepolisian, tingkat merkuri ditemukan berada jauh di bawah batas deteksi peralatan tercanggih yang tersedia di Indonesia saat ini. Dalam periode dua minggu tidak mungkin hasil tim kepolisian bisa menunjukkan hasil yang 5,000,000% lebih tinggi daripada hasil WHO. Pencemaran merkuri bukan seperti saklar yang bisa dinyalakan dan dimatikan sesuka hati.
Menurut USEPA dan Kementerian Lingkungan Hidup di Kanada, pencemaran merkuri bersifat bertahan dan tak dapat ditarik kembali setelah masuk ke media lingkungan dan apabila suatu ekosistem telah tercemar merkuri, perlu beberapa dasawarsa sebelum kadar merkuri dapat diturunkan hingga tingkat yang alami. Tidak mengherankan jika perlu hampir dua puluh lima tahun sebelum Teluk Minamata dapat dinyatakan bersih pada tanggal 29 Juli 1997.
Karena itu, ketika pihak Jaksa Penuntut Umum dan beberapa LSM menentang keputusan untuk melakukan pengambilan sampel ulang di Teluk Buyat dengan dalih bahwa keadaan di Teluk Buyat telah berubah, argumentasi mereka ditolak karena salah secara teknis. Sebenarnya fakta-faktanya sederhana sekali: LSM-LSM ini sudah tahu bahwa mereka telah berbohong dan bahwa pengambilan sampel ulang akan mengungkapkan lebih jauh motivasi politik mereka.
Sebagaimana telah saya singgung di blog-blog saya sebelumnya, ayah saya menjalani cobaan ini atas kejahatan yang tak pernah terjadi. Yang membuat geram dan kecewa adalah bahwa tidak ada pihak manapun yang menuntut pertanggungjawaban dari pejabat-pejabat pemerintah dan LSM itu atas tindakan mereka yang dengan sengaja telah memanipulasi fakta-fakta, serta kerugian besar yang telah mereka sebabkan kepada pemerintah, masyarakat Teluk Buyat serta masyarakat secara luas. Bayangkanlah betapa luas kepedihan pribadi akibat tindakan-tindakan ini. Tetapi yang paling tragis adalah kematian bayi Andini, yang nyawanya seharusnya bisa diselamatkan kalau saja ia tidak dipajang sebagai maskot oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan mendapatkan perhatian medis yang layak.
Suatu hal yang juga mencemaskan adalah bahwa kebohongan yang gamblang seperti ini dengan mudah dapat memasuki struktur pemerintahan Indonesia. Masalah Teluk Buyat telah merugikan negara ini dengan semakin terungkapnya kebenaran sepanjang proses persidangan ini, kepercayaan publik terhadap LSM dan pejabat negara juga semakin terkikis. Terungkapnya kebenaran seperti ini adalah sesuatu yang cukup mengkhawatirkan karena legitimasi para pejabat pemerintah dan LSM di mata publik merupakan prakondisi mutlak bagi terwujudnya penyelenggaraan pemerintahan yang baik di negara apa pun.
Sudah jelas bahwa hasil laboratorium dari kegiatan pengambilan sampel ulang tidak hanya merupakan bukti yang kuat bahwa Teluk Buyat bersih tetapi juga menggambarkan bagaimana segelintir individu dari pihak pemerintah dan LSM boneka berhasil megikis kredibilitas lembaga masing-masing dan mengakibatkan kegagalan sistem pemerintahan.
(baca hasil anlisis independen tentang bagaimana WALHI dan JATAM merongrong demokrasi di Indonesia yang tengah berkembang)
Dan pada akhirnya ada satu pertanyaan yang patut direnungkan. Jane Perlez dari NYT belum memunculkan batang hidungnya lagi dan belum terdorong untuk memberitakan yang benar. Apakah dia masih tidur pulas di Jakarta atau mungkin dia memiliki masalah indra pendengaran yang selektif?