Teluk Buyat dan Lapindo—Sama-sama lumpur, tapi beda - 12 Sep 2006
by Eric
Satu hal yang bisa diprediksi dari orang-orang tertentu di lingkungan KLH adalah bahwa mereka tidak bisa diprediksi. Perilaku paradoks seperti ini tampak dari kontrasnya sikap mereka antara kasus Buyat dengan Lapindo yang terus “mengalir” tiada henti di Jawa Timur. Dalam kasus Teluk Buyat, “Tim Teknis” bentukan KLH mengacuhkan berbagai temuan lembaga nasional maupun mancanegara yang menunjukkan bahwa Buyat itu bersih. Sebaliknya mereka justru menggembar-gemborkan berbagai resiko lingkungan yang sebenarnya tidak ada (lihat
Laporan Tim Teknis Masuk Museum Rekor Ilmu Gadungan). Sebaliknya dalam kasus Lapindo dimana lumpur dan air yang tercemar tampak jelas dan sudah menyebabkan 8,000 orang kehilangan tempat tinggal, orang-orang yang sama di KLH ternyata justru menafikan berbagai bahaya lingkungan dan kesehatan yang muncul.
Ini jelas-jelas standar ganda! Saya ingin menyoroti hal ini untuk sekali lagi memperkuat pesan saya di blog-blog saya terdahulu bahwa kasus Buyat ini sama sekali tidak ada urusannya dengan lingkungan hidup. Inilah saatnya bagi semua yang sedang berusaha memahami realita kasus Buyat ini untuk melihat borok pihak-pihak yang berwenang di sini.
Silahkan anda membaca berita Straits Times “Tanggapan keruh atas bencana polusi” untuk lebih baik memahami bahwa satu-satunya kebenaran di balik tindakan orang-orang yang menuduh ayah saya mencemari adalah bahwa mereka sama sekali tidak peduli masalah lingkungan hidup atau kesehatan masyarakat. Mereka hanya sekelompok oportunis yang haus perhatian publik sekalipun nyawa seorang bayi jadi taruhan (baca
Jane Perlez dan LSM-LSM Harus Bertanggung Jawab Pada Hati Nuraninya) atau hilangnya pendapatan para nelayan, atau menjadikan ayah saya sebagai terdakwa – praktis kini pekerjaan utamanya – atas tindak pidana yang tidak pernah terjadi.